Awalnya Gr. Paiman
Situmorang bersama dengan St. Elvian Siahaan yang datang ke daerah Jambi
tepatnya di daerah Pemayongan untuk melihat Suku Anak Dalam yang ada di sana.
Ketika melihat Suku Anak Dalam, dia berkata “ini orang Indonesia yang belum
merdeka..” Ia terkejut melihat keadaan mereka yang belum mengenakan baju dan
tidak memiliki rumah yang layak. Kemudian, Gr. Paiman Situmorang pulang lalu
kembali untuk hidup bersama Suku Anak Dalam itu. Gr. Paiman Situmorang datang
kembali bersama dengan CDiak. Franny Tambunan dan CDiak. Santa Situmeang yang
ditugaskan juga oleh kantor Pekabaran Injil (Zending) untuk mengajari Suku Anak
Dalam.
Mereka begitu serius
dalam hal baca-tulis untuk diajarkan pada SAD. Namun, proses tidak selalu
berjalan mulus, karena ada saja pemnghalang yang membuat proses sempat terhenti
sebentar. Karena orang-orang Dusun tidak ingin SAD menjadi bisa baca-tulis
dengan kata lain tidak ingin mereka pintar, mereka mengganggu para pelayan
zending HKBP, khususnya Gr. Paiman Situmorang. Gr. Paiman Situmorang sempat
diancam akan dibakar oleh orang-orang Dusun karena dianggap Gr. Paiman
Situmorang ingin mengajari SAD untuk melawan, padahal tidak demikian.
Dahulu juga Gr. Paiman
Situmorang menyediakan semua yang dibutuhkan oleh SAD, seperti: uang, beras,
dll. Hingga pada akhirnya kantor Zending tidak lagi memberikan uang selain
operasional karena dianggap membuat pengeluaran yang melampaui batas, lalu ia
diberhentikan dan kemudian koordinator Pos di Pemayongan ini menjadi St. Jono
Sihombing, S.Th.

Komentar
Posting Komentar