Daerah Km. 21 Desa
Pemayungan, secara kasat mata belum sepenuhnya tersentuh akan dunia pendidikan
bagi kalangan masyarakat SAD yang ada di daerah ini. Itu terlihat melalui
gambaran kehidupan anak-anak SAD yang sedang melakukan kegiatan membantu orang
tua menderes (memotong bagian sisi kiri-kanan karet hingga akhirnya pohon
mengeluarkan getah) dibandingkan dengan aktivitas yang bermuatan pendidikan.
Namun berdasarkan penuturan amang St. Simanjuntak (selaku guru tenaga kerja
sukarela di SD No. 116 Kelas Jauh), saat ini telah ada fasilitas belajar
mengajar yang disediakan oleh pemerintah Kabupaten Muara Tebo yang merupakan
sekolah pembantu dari SD yang ada didaerah dusun Km. 28 jalan Poros yang
difokuskan untuk menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak yang ada
didaerah Pemayungan hingga daerah TKD. Namun walaupun fasilitas pendidikan
telah disediakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Muara Tebo, kehidupan
pendidikan masyarakat SAD terutama kalangan anak-anak hingga remaja masih
terbilang jauh dari cakupan ruang lingkup pendidikan.
Namun
saat ini telah ada fasilitas pendidikan yang telah disediakan oleh pihak Zending
PI HKBP yang ada didaerah Pemayungan yakni berupa tempat untuk baca tulis bagi
anak-anak SAD yang ada didekat daerah Zending PI HKBP. Fasilitas baca tulis
bagi anak-anak SAD merupakan inisiatif dari Pihak Zending PI HKBP yang ada di
wilayah P. Siantar sebagai wujud nyata penginjilan di daerah tersebut. Namun
proses baca tulis yang diperuntukkan bagi anak-anak SAD tidak semudah yang
dibayangkan. Sebab menurut penuturan amang St. J. Sihombing dan berdasarkan
pengalaman sahabat SAD yang mengajar kurang lebih satu setengah bulan untuk
anak-anak SAD masih banyak terdapat kendala dalam mengadakan proses belajar
baca tulis di daerah tersebut. Kendala yang banyak dihadapi oleh pengajar
kebanyakan berasal dari internal masyarakat SAD sendiri. Salah satunya faktor
ketidakpedulian tersebut terlihat dari pada tindakan orang tua SAD terhadap anak-anak
yang lebih menekankan pada pekerjaan dibandingkan pada kegiatan baca tulis yang
ada di daerah Zending.
Salah
seorang Suku anak Dalam yang bernama Titampung pernah berkata kepada saya “Pak
Guru, kek manolah kami nak belajar pagi hari, kami bantu orang bepak dan induk
dulu ngederes karet. Kalau malam kami belajarnyo dah capek pak guru sebab dari
pagi kami bantu induk dan bepak kerjo”.
Problema ini yang Sahabat SAD temukan selama meneliti di lapangan, satu sisi apa yang dikatakan oleh
Titampung adalah sebuah kebenaran sebab untuk sebuah usia anak-anak, tidak
seharusnya anak-anak memfokuskan diri untuk bekerja membantu orangtua dan
akibatnya si anak akan kehilangan masa dimana dirinya mengenal akan pendidikan
dasar untuk keperluan masa depannya.
Program baca – tulis bagi masyarakat dan
anak-anak SAD sebenarnya telah ada sejak lama. Menurut penuturan amang St. J.
Sihombing selaku koordinator Pos PI Zending HKBP untuk wilayah Pemayongan dan
sekitarnya, program ini merupakan salah satu usulan dari pada Kepala Departemen
Marturia pada periode sebelumnya yakni amang Pdt. Marolop Sinaga, M.Th. Beliau
menuturkan bahwa program baca – tulis yang ada merupakan program khusus yang
diamanatkan oleh amang Kepala Departemen Marturia kepada koordinator Zending PI
yang ada di Km. 21 sebagai bentuk dari pada penginjilan terhadap masyarakat SAD
yang ada di daerah tersebut. Hingga saat ini program baca – tulis yang
ditujukan kepada masyarakat SAD masih tetap berjalan walaupun ada beberapa
hambatan dan rintangan yang dihadapi amang St. J.Sihombing selaku Koordinator
Pos PI.
Selama sahabat SAD menjalakan proses praktek lapangan I di Desa Pemayungan, praktikum
juga merasakan hal yang sama seperti yang diutarakan oleh amang St. J.
Sihombing terkait hambatan dan rintangan yang dihadapi dalam menjalakan program
baca – tulis bagi masyarakat SAD. Hambatan dan rintangan yang pratikum alami
terbagi dalam dua bagian besar yakni faktor Eksternal dan faktor Internal.
Faktor
Eksternal
Hambatan dan rintangan
yang pratikum temui dilapangan ada yang bersumber dari luar masyarakat SAD
sendiri. Salah satu contoh hambatan yang dialami anak-anak SAD ketika sedang
belajar baca – tulis menurut penuturan amang St. J. Sihombing, S.Th ialah
adanya larangan dari masyarakat lain (orang dusun) terhadap proses pembelajaran
bagi anak-anak SAD. Lebih lanjut beliau juga menuturkan hal tersebut terjadi
akibat pihak masyarakat dusun yang tidak mau melihat masyarakat SAD mengenal
pendidikan. Hal ini lah yang menjadi kendala utama yang dialami oleh Sahabat SAD dan pengajar lainnya selama mengajar baca – tulis kepada anak-anak SAD yang ada
di daerah Km. 21 Desa Pemayungan.
Faktor
Internal
Karakter SAD terkadang juga
menjadi penghambat di dalam proses baca – tulis yang ada di Desa Pemayungan.
Hal tersebut tergambar dari keseharian anak-anak SAD yang sedang belajar di
sekolah (rumah Koordinator Zending PI HKBP). Pengalaman tersebut Sahabat SAD alami saat sedang mengajar anak-anak SAD di sekolah. Dimana pada saat proses
belajar mengajar, anak-anak SAD yakni Suti, meta, dan besilat asik keluar masuk
ruang sekolahan. Hal ini kerap terjadi di tengah-tengah proses belajar baca –
tulis bagi anak-anak SAD sehingga proses belajar mengajar terkadang menjadi
terganggu dan tidak dapat terlaksana dengan baik.
Komentar
Posting Komentar